LITERASI DAN KARAKTER PEMBELAJAR

LITERASI DAN KARAKTER PEMBELAJAR

Banjir berita bohong (hoak) yang akhir-akhir ini masif memenuhi dunia maya perlu menjadi perhatian bersama, terlebih masalah ini sudah menjadi tending topic nasional dan menyita energi bangsa. Masifnya peredaran berita hoak ini berdampak pada rasa tidak percaya pada kelompok lain bahkan menjadi penyebab konflik dan pertengkaran yang mengarah pada perpecahan bangsa.

Meski akhirnya benang kusut sebab masifnya peredaran berita hoak berangsur terurai dengan mulai terkuaknya kelompok-kelompok yang memproduksi dan mengkapitalisasi berita hoak untuk tujuan dan kepentingan tertentu seperti kelompok Saracen, namun dampak yang telah ditimbulkan dari berita hoak ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Masyarakat semakin terkotak dan chauvinisme semakin menguat dan berpotensi mengganggu kerukunan masyarakat.

Peredaran hoak yang masif dan tak terkendali disebabkan banyak faktor. Selain faktor kesengajaan diproduksi untuk kepentingan politik, juga ada faktor lain yang menyangkut kondisi rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia. Rendahnya tingkat literasi ini menyebabkan masyarakat tidak bisa memverifikasi dan memvalidasi setiap berita yang diterima. Tidak sedikit masyarakat yang  bersemangat men-sharing berita tanpa (mau) tahu atas kebenaran isi berita yang dibagikannya.

Kemampuan literasi bangsa ini berada di level memprihatinkan. Data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) dan Programme for International Student Assesment (PISA) menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia dalam memahami bacaan masih tergolong rendah. Indonesia menduduki urutan ke-45 dari 48 negara peserta uji literasi.

 

Central Connecticut State University juga pernah merilis survey bahwa Indonesia menduduki urutan ke-60 dari 61 negara yang menjadi objek survei dalam literasi. Negara Finlandia menjadi negara di urutan pertama soal kualitas literasinya. Disusul secara berturut-turut lima besar negara dengan kemampuan literasi tertinggi yaitu Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia.

Menariknya, negara-negara yang memiliki tingkat literasi baik ini berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan penduduknya. Baru-baru ini, PBB merilis negara-negara dengan penduduk paling bahagia. Hasilnya, negara dengan urutan tiga besar diduduki negara-negara yang memiliki tingkat literasi yang baik yaitu Finlandia, Norwegia, dan Denmark. Sementara Indonesia menempati urutan ke-63.

Harus diakui bahwa peningkatan literasi belum menjadi wacana utama di Indonesia, bahkan di dunia pendidikan program maupun gerakan literasi baru muncul belakangan. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang gagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI) digadang menjadi program yang bisa mendorong peningkatan literasi di lingkungan pendidikan.

Salah satu kegiatan dalam GLS adalah siswa diwajibkan membaca buku non-mata pelajaran selama 15 menit sebelum mulai pembelajaran. Namun GLS ini belum diterapkan di semua sekolah, bahkan di beberapa sekolah dan madrasah malah belum mengenal program peningkatan kemampuan literasi ini.

Di beberapa wilayah, Gerakan literasi sudah mulai terlihat. Jawa Barat melalui ajang West Java Leader’s Reading Challenge (WJLRC) telah mendorong kesadaran berliterasi di lembaga-lembaga pendidikan. Program literasi yang merupakan kerjasama dengan pemerintah australia ini patut menjadi acuan wilayah lain di tanah air.

 

Budaya Literasi di Madrasah

Dalam buku panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud RI), Literasi dapat didefinisikan sebagai kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktifitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan atau berbicara.

Ferguson (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) mengurai komponen literasi yang meliputi Literasi dasar, Literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, literasi visual. Yang dimaksud Literasi dasar adalah kemampuan mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung sedang literasi media yaitu kemampuan mengetahui berbagai bentuk media yang ada. Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi adalah yang dimaksud dengan literasi teknologi, sedang literasi visual adalah pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi. Adapun literasi perpustakaan adalah memiliki pengetahuan dan informasi mengatasi sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan atau masalah berbasis pustaka. Jadi, literasi tidak hanya dipahami sebagai aktifitas membaca saja. Sebab membaca hanyalah satu dari unsur literasi.

Idealnya, sekolah/ madrasah harus menjadi tempat utama dalam peningkatan kemampuan literasi. Namun faktanya di lembaga pendidikan justru jarang dijumpai sarana yang mendukung peningkatan literasi. Perpustakaan sebagai sarana utama pendukung literasi cenderung sepi dan tidak bergairah. Kondisi ini tidak lain karena kebijakan sekolah masih abai terhadap keberadaan perpustakaan, baik soal pengelolaan maupun dalam dukungan pembiayaan.

Di banyak sekolah, kondisi perpustakaan nyaris memprihatinkan, belum dikelola dengan baik bahkan tidak sedikit yang beralih fungsi sebagai gudang. Perpustakaan tidak lagi menjadi tempat menarik bagi para siswa karena yang ada hanya deretan buku pelajaran sementara buku-buku pengetahuan lainnya tidak disediakan secara memadai.

Di lain pihak, proses pembelajaran yang dilakukan guru juga kadang justru kontraproduktif terhadap peningkatan literasi siswa. Sebagai contoh, penugasan guru untuk meringkas materi sesungguhnya bertujuan baik agar siswa cepat menguasai, namun di sisi lain justru tidak memberi kesempatan anak memperluas wawasannya dengan membaca literatur-literatur terkait dengan materi. Kegiatan meringkas nampaknya hanya bertujuan untuk memudahkan hafalan materi yang berorientasi pada penyelesaian soal-soal evaluasi / ulangan.

Budaya baca di lingkungan pendidikan juga belum sepenuhnya baik. Perlu keteladanan dalam hal membudayakan kebiasaan membaca di sekolah, dan peran ini hendaknya yang paling dominan adalah guru.

Dari beragam persoalan tersebut, tentu kita tidak hendak menyudutkan atau meyalahkan pihak tertentu. Sebab penyelesaian masalah ini tidak hanya tanggung jawab pihak tertentu saja namun tanggung jawab semuanya.

Peningkatan kemampuan literasi siswa di madrasah bisa dimulai dari merubah pola pikir (Mindset) para civitas akademika madrasah. Bahwa membaca tidak hanya aktifitas belajar (learning to read) namun membaca adalah bertujuan untuk mengenal dan memperluas wawasan dan informasi yang dibutuhkan masing-masing pribadi (reading to learn).

Upaya lainnya bisa dilakukan dengan mendekatkan akses sumber bacaan bagi siswa. Upaya ini bisa dilakukan dengan banyak cara, mulai dari menyediakan bahan literatur di kelas hingga melakukan distribusi berkala antar kelas. Pengalaman penulis dalam mendorong siswa gemar membaca dengan membawa beberapa buku bacaan non-mata pelajaran ke kelas dan pengembaliannya dengan syarat membuat ulasan / review terhadap buku yang telah dibacanya.

Keberpihakan kebijakan madrasah dalam meningkatkan peran perpustakaan menjadi sangat penting. Mulai memberi perhatian dalam pengelolaannya, hingga dukungan biaya untuk menambah koleksi literaturnya.

Seiring dengan meningkatnya peran perpustakaan maka akan mendorong siswa memiliki kebiasaan membaca yang akan mendorongnya menjadi insan pembelajar dan akan mengantarkan dirinya pada pribadi berdaya saing. Semoga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *