Kemana Setelah Lulus MA/SMA?

Kemana Setelah Lulus MA/SMA?

Ujian Nasional Tahun 2018 untuk tingkat MA/SMA sederajat baru saja selesei (kita kesampingkan polemik-polemik yang terjadi). Bagi adik-adik kelas XII seakan satu beban berat sudah lengser dari pundak, tinggal menunggu pengumuman hasil dari kerja keras kita selama 3 tahun ini. Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa euforianya masih terasa. Tapi jangan lupa, setalah semua kegiatan ini, akan ada pertanyaan yang muncul “Mau kemana setelah kita tamat MA/SMA?”. Mungkin bagi sebagian siswa pertanyaan itu, sudah mulai muncul sebelum UN dimulai, tapi sebagian yang lain, mungkin sebagian besar yang lain belum sempat terlintas, dikarenakan fokus terhadap pelaksanaan UN.

Pertanyaan semacam itu wajar untuk dilontarkan setiap siswa MA/SMA sederajat. Kalau kita telisik lebih lanjut terdapat empat opsi yang mungkin dilakukan :

  1. Kuliah
  2. Kerja
  3. Menikah
  4. Do Nothing (Menganggur)

Di atas terdapat empat opsi, akan tetapi keempat opsi tersebut masih terdapat beberapa hal yang harus juga diputuskan dengan tepat.

  1. Kuliah

Sebelum kita memutuskan untuk kuliah, perencanaan yang matang diperlukan, yaitu kemana kita akan kuliah, jurusan apa yang kita inginkan, dukungan orang tua kita seperti apa jika kita kuliah. Semua itu harus ditentukan dan diputuskan secara matang, karena bagaimanapun ini akan berkaitan secara langsung dengan masa depan kita. Memilih untuk kuliah saat ini bukan lah hal yang mudah, beberapa hal yang harus dilakukan :

  • Sesuaikan Jurusan yang dipilih dengan minat dan kemampuan kalian. Tidak perlu ikut-ikutan teman, pilihlah jurusan yang sesuai dengan kemampuan dan minat. Bila  belum mengetahui apa yang menjadi minat dan kemampuan kalian, bisa meminta bantuan pendapat guru atau senior yang kuliah.
  • Pertimbangkan Perguruan Tinggi yang akan dimasuki, akreditasinya, mutu dosen-dosennya, lingkungan kampusnya, fasilitasnya, dan kualitasnya di pandangan masyarakat.
  • Pilih Jalur Pendidikan Diploma atau Jalur Pendidikan Sarjana. Pendidikan Diploma biasanya akan fokus pada skills (kemampuan), sedangkan Pendidikan Sarjana fokus pada pengembangan keilmuannya, jadi akan lebih banyak mikir dan menganalisa konsep.
  • Untuk hal ini perlu memperhitungkan sumber daya, apakah dari orangtua, beasiswa, atau membiayai sendiri.
  • Kuliah Di Luar Kota atau dalam Kota, akan tetap tinggal dengan orangtua atau pergi merantau ke daerah orang lain. Hal ini harus disesuaikan dengan jurusan yang akan dipilih. Belum tentu jurusan yang ingin dipilih ada di lokasi daerah tempat tinggal.

Untuk urusan kuliah, terkadang orang tua kita sering memilihkan, dan mungkin cenderung “mendorong” jurusan yang harus dijalani. Saran, pilihlah jurusan yang sesuai dengan bakat dan minat, karena bagaimanapun kalianlah yang menjalani kuliah tersebut. Namun, dalam memilih jurusan, perguruan tinggi terlebih dahulu kalian diskusikan dengan orang tua, berikan alasan yang kuat, dan komitmen serta tanggunga jawab kalian untuk kuliah. Ketika mengetahui kesungguhan kalian untuk melanjutkan kuliah, tentunya orang tua akan mendukung sepenuhnya keputusan kalian. Satu pesan, jangan jadikan kuliah hanya sebagai kepatuhan dan pengguguran kewajiban kita saja. Niat yang demikian itu akan menjadikan kalian menjalankan kuliah dengan setengah hati. Perlu diingat, kuliah tidaklah sama dengan MA/SMA. Di perkuliahan kita dituntut untuk mandiri.

  1. Kerja

Pilihan bekerja, bisa dikategorikan menjadi dua, yang itu menjadi wirausaha dan bekerja kepada orang lain. Pilihan ini mungkin disebabkan kondisi perekonomian yang belum mampu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau mungkin karena keinginan sendiri agar segera mandiri secara ekonomi. Keputusan kerja kunci utamanya, kita tidak boleh gensi ataupun malu ketika bertemu dengan teman sebaya yang memilih untuk melanjutkan kuliah. Akan lebih baik jika, adik-adik dapat kuliah sambil bekerja. Ketika itu dapat dijalankan betapa bangganya orang tua kepada kalian,dengan membiayai kuliah sendiri tanpa meminta kepada orang tua.

  1. Menikah

Menikah….ya…menikah, ini merupakan pilihan besar. Di beberapa daerah di Indonesia, masih sering kita jumpai bahwa anak-anak perempuan tamat MA/SMA hanya menunggu ‘dilamar’. Namun, tentunya menikah bukanlah pilihan yang bijaksana, karena menikah menuntut kematangan emosi, sosial, psikologis. Mengingat tanggungjawab yang akan dipikul sebagai individu yang menikah juga akan besar sekali. Selain, itu tamat MA/SMA biasanya usia baru 18 – 19 tahun, dan usia ini bukan lah usia yang matang untuk seorang anak berada dalam dunia pernikahan. Selain emosi yang belum stabil, tanggung jawab juga akan semakin besar jika sudah menikah.

  1. Do Nothing (menganggur)

Sebenarnya ini bukanlah pilihan, karena bagaimanapun juga ketika kita menganggur kita hanya akan menjadi beban orang tua saja. Agar kita tidak menganggur dan tidak melakukan apa saja, sebaiknya ikutilah pelatihan atau ambilah kursus. Sekarang ini, banyak pelatihan yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja yang bekerja sama dengan perusahaan untuk mencari karyawan.

Beberapa hal dia atas, merupakan pilihan-pilihan yang mungkin sering terpikirkan oleh adik-adik MA/SMA. Semua pilihan ada di pribadi masing-masing. So…..apapun yang kalian pilih “Lakukanlah yang terbaik, Jalani dengan IKHLAS, dan tunggu KEAJAIBANnya”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *